Good News From UTM

DEBAT SEHAT UNTUK MAHASISWA : Logical Fallacy dalam Debat


DEBAT SEHAT UNTUK MAHASISWA : Logical Fallacy dalam Debat

Anda pernah melihat ajang atau lomba debat? Atau ikut serta sebagai peserta debat? Nah, debat merupakan penyampaian argumen secara logis yang disetai dengan fakta-fakta dari sumber terpercaya. Dengan kata lain, debat itu ada aturannya ya pemirsa. Tidak semua penyampaian argumen oleh dua kubu pro dan kontra lantas dapat dikatakan sebagai debat. Dalam hal ini pihak pro merupakan pihak yang setuju terhadap mosi debat, sedangkan pihak kontra merupakan pihak yang tidak setuju terhadap mosi debat. Penyampaian argumen dilakukan bergantian oleh speaker 1, speaker 2, dan speaker 3. Speaker 1 bertugas untuk menyampaikan dasar dari pernyataan setuju ataupun tidak setuju dari mosi, biasanya dapat berupa Undang-undang, Peraturan tertulis, atau dasar ketetapan lainnya. Speaker 2 bertugas dalam penguatan argumen dari speaker 1. Dan speaker 3 bertugas untuk menyampaikan kesimpulan dari argumen yang dipaparkan oleh rekannya, speaker 1 dan speaker 2 tanpa membuka statement baru.
Nah, yang seringkali dilupakan oleh peserta debat adalah attitude selama penyampaian argumen. Jangan lupa, dalam beberapa ajang perlombaan debat, ketidaksopanan peserta selama penyampaian argumen dapat mengurangi poin. Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa debat itu menyampaikan argumen secara logis dan tidak ngawur, biasanya disebut logical fallacy. Jadi Logical Fallacy merupakan hal-hal yang sewajarnya tidak dilakukan justru umum dijumpai dalam Debat. Beberapa logical fallacy yang biasa dijumpai diantaranya:
1. Argumentum Ad Hominem : menyerang lawan secara pribadi. Biasanya dapat terdengar ketika menggunakan kata "anda", "kalian".
2. Strawman Fallacy : menciptakan image palsu untuk diserang. Nah biasanya ini terjadi ketika ingin mematikan lawan tapi statement yang dilontarkan tidak relevan dengan sanggahan.
3. Appeal to Emotion : menggunakan emosi sebagai dasar argumen. Ingat, dalam debat juga tidak boleh bawa perasaan ya. Biasanya diungkapkan dengan kalimat "tidak, selama ini saya mengenal organisasi X sebagai organisasi yang jujur, transparan, dsb"
4. Argumentum Ad Populum : mendasari kebenaran argumen dengan suara mayoritas. Untuk logical fallacy yang satu ini biasanya dapat dijumpai pada kalimat "kata orang zaman dahulu..."
5. Appeal to Authority : Mendasarkan argumen pada pendapat orang yang berpengaruh atau punya otoritas.
X: saya tidak sependapat dengan argumen dari pihak pro.
Y : Begini, menurut Gubernur Provinsi A, beliau pernah mengatakan bahwa....
Nah, Gubernur tidak cukup dijadikan ukuran sebuah argumen yaa..
Dari sekian banyak Logical Fallacy yang ada, setidaknya 5 hal tersebut lah yang sering kita jumpai. Be smart speaker. Kita boleh berargumen, tapi sampaikan dengan baik dan benar. Karena dalam debat kita tidak mencari SIAPA yang benar, tapi APA yang disampaikan dapat dibenarkan.
Sekian.
Khisbiyatul Khasanah
Mahasiswa Pendidikan IPA

Previous
Next Post »